Santri Ponpes Sultan Agung Wonosobo Gelar Muludan dan Silaturahmi Akbar, Teguhkan Ikatan Santri hingga Akhir Hayat
Di tengah kesibukan dan pengabdian di daerah masing-masing, para santri kembali berkumpul pada bulan Rabiul Awal untuk memperingati Maulid Nabi ﷺ sekaligus mempererat tali silaturahmi.
WONOSOBO — Bulan Rabiul Awal kembali menjadi momentum istimewa bagi para Santri Pondok Pesantren Sultan Agung Wonosobo. Para santri yang kini telah tersebar dan menjalankan khidmat di berbagai daerah kembali berkumpul dalam Acara Muludan dan Silaturahmi Akbar yang berlangsung di Padepokan Binurilah, Condrowulan, Gemblengan, Kabupaten Wonosobo.
Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut digelar di bawah asuhan Gus Nurwadi dan menjadi agenda tahunan yang mempertemukan para santri, keluarga pesantren, serta jamaah dalam suasana penuh kekeluargaan.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ kitab Al-Barzanji yang dipimpin oleh Syaikh Arif Al-Banyumasyi tsumma Al-Bandungi.
Pembacaan maulid berlangsung dengan penuh kekhusyukan sebagai ungkapan mahabbah dan penghormatan kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Suasana semakin hangat ketika para santri dan jamaah bersama-sama mengikuti rangkaian pembacaan maulid.
Setelah pembacaan Al-Barzanji, acara dilanjutkan dengan sambutan sohibul bait, kemudian sambutan dari perwakilan santri. Dalam kesempatan tersebut, para santri menyampaikan rasa syukur dapat kembali bertemu dalam satu majelis meskipun sebagian besar saat ini telah bermukim dan menjalankan khidmat di kampung atau daerah masing-masing.
Mauidhoh Hasanah dan Mujaahaddah
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Mauidhoh Hasanah yang disampaikan oleh Romo KH. Margi dari Semarang.
Nasihat keagamaan tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan tahunan para santri. Selain memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ, momentum Muludan juga menjadi kesempatan untuk kembali mengingat pentingnya menjaga adab, ilmu, amal, serta hubungan antara guru dan murid.
Setelah beristirahat sejenak, acara dilanjutkan dengan Mujaahaddah yang dipimpin oleh Gus Imam dari Pemalang.
Para peserta mengikuti mujaahaddah dengan penuh kekhusyukan. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Bu Nyai Hj. Siti Maryam.
“Kami Tetap Santri, Bukan Mantan Santri”
Ada satu hal yang menjadi kekhasan dalam tradisi kesantrian di Pondok Pesantren Sultan Agung Wonosobo, yakni cara para santri memaknai hubungan mereka dengan pesantren setelah tidak lagi tinggal di pondok.
Bagi mereka, meninggalkan pondok secara fisik bukan berarti berakhirnya status sebagai santri.
Syaikh Arif Al-Banyumasyi bersama sejumlah santri lainnya menyampaikan bahwa mereka tetap memandang dirinya sebagai Santri Pondok Pesantren Sultan Agung yang diasuh oleh Mbah Wali Shobihun Misbachuddin rahimahullah, meskipun sudah tidak bermukim di pesantren.
«“Kami tetap santri Ponpes Sultan Agung. Bukan istilah alumni dalam pengertian selesai menjadi santri. Walaupun sudah tidak berdiam di pondok dan menjalankan khidmat di kampung masing-masing, kami tetap santri sampai ajal menjemput.”»
Menurutnya, tradisi tersebut memiliki dasar pengalaman pendidikan yang khas. Para santri tidak seperti sistem pendidikan pesantren yang mengenal wisuda sebagai tanda berakhirnya masa pendidikan dan kemudian seseorang disebut alumni.
Di Pondok Pesantren Sultan Agung, hubungan kesantrian justru dipandang sebagai amanah yang terus melekat sepanjang kehidupan.
Amanah Membaca Doa Karomah Agung
Salah satu bentuk kesinambungan tersebut adalah adanya amanah kepada para santri untuk senantiasa membaca Doa Karomah Agung, yang merupakan salah satu pelajaran pokok dari Mbah Wali Shobihun Misbachuddin rahimahullah.
Amanah tersebut menjadi salah satu pengikat antara santri dengan tradisi keilmuan dan amaliah yang diterima selama berada di pesantren.
Karena itu, meskipun para santri telah kembali ke daerah masing-masing, menjalankan pekerjaan, berdakwah, bertani, berwirausaha, maupun melaksanakan berbagai bentuk khidmat kepada masyarakat, mereka tetap merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga amalan dan ajaran yang telah diberikan oleh guru.
«“Selama masih menjalankan amanah yang diberikan guru, khususnya tugas membaca Doa Karomah Agung sebagai salah satu pelajaran pokok Mbah Wali, maka hubungan kesantrian itu tetap ada. Kami tetap santri hingga ajal menjemput,” ungkap Syaikh Arif.»
Pandangan tersebut juga diamini oleh sejumlah santri yang hadir dalam acara. Bagi mereka, predikat santri bukan semata-mata persoalan tempat tinggal, melainkan menyangkut adab, pengamalan ilmu, amanah guru, dan hubungan batin yang terus dijaga.
Rabiul Awal, Momentum Pulang Bersama
Kegiatan Muludan dan Silaturahmi Akbar ini digelar setiap bulan Rabiul Awal. Selain sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, kegiatan tersebut juga menjadi momentum tahunan bagi para santri untuk kembali berkumpul.
Para santri yang selama satu tahun menjalankan aktivitas dan pengabdian di daerah masing-masing dapat kembali bertemu dengan sesama santri, keluarga pesantren, serta para guru dan tokoh yang menjadi bagian dari perjalanan pendidikan mereka.
Jarak dan kesibukan tidak menjadi alasan untuk memutus hubungan. Sebaliknya, momentum Rabiul Awal menjadi ruang untuk memperbarui silaturahmi dan menguatkan kembali ikatan kesantrian.
Tradisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa menjadi santri tidak selalu berakhir ketika seseorang meninggalkan pondok secara fisik.
Bagi Santri Pondok Pesantren Sultan Agung Wonosobo, kesantrian adalah sebuah perjalanan panjang yang mencakup ilmu, adab, amal, amanah, khidmat, dan penghormatan kepada guru.
Acara Muludan dan Silaturahmi Akbar pun berakhir dalam suasana penuh keakraban dan kekhidmatan. Para santri kembali ke daerah masing-masing dengan membawa semangat untuk terus menjaga amalan, melanjutkan khidmat, serta merawat silaturahmi.
Tetap santri, tetap menjaga amanah guru, dan tetap bersilaturahmi—hingga akhir hayat





Komentar
Posting Komentar