DUNIA DI TANGANMU, BUKAN DI HATIMU

Mawlana Shaykh Sayyid Muhammad Adil ar-Rabbani qs. Ahad, 30 Agustus 2026 / 17 Rabiul Awal 1448. Shaykh Nazim Dergah, Lefke, Siprus

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Audzubillahi minasyaitanir rajim. Bismillahir Rahmanir Rahim. Wassalatu Wassalamu ala Rasulina Muhammadin Sayyidul Awwalin wal Akhirin. Madad Ya Rasulullah, Madad Ya Sadati As’habi Rasulillah, Madad Ya Mashayikhina, Dastur Mawlana Shaykh Abdullah Faiz Daghestani, Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani. Madad. Tariqatunas suhbah wal khayru fil jam'iyyah.


Baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menjalani kehidupan beliau ﷺ demi kehidupan akhirat. Karena itu beliau ﷺ tidak menyimpan harta benda duniawi untuk dirinya sendiri. Apabila orang-orang miskin datang kepadanya, beliau ﷺ memberikan apa yang beliau miliki kepada mereka. Rasulullah ﷺ juga memberikan apa yang dimilikinya sebagai hadiah kepada orang-orang yang beliau ﷺ kenal.

Pada saat wafat, Baginda Nabi ﷺ kita hanya memiliki sebuah tempat tidur yang terbuat dari serat pohon kurma, sebuah bantal, dan sehelai penutup untuk dikenakan. Tentu saja, ada beberapa pakaian berbahan wol untuk musim dingin, namun pada musim panas pakaian tersebut memang tidak diperlukan.

Pada hakikatnya seluruh dunia beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya berada di bawah perintah Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kita. Segala sesuatu berada dalam kendali beliau ﷺ. Maka sangatlah wajar apabila beliau ﷺ, sebagai orang yang mengetahui dan mengajarkan kepada seluruh manusia tentang kehidupan akhirat, tidak memberikan nilai yang besar kepada kenikmatan duniawi.

Adapun manusia biasa, mereka cenderung mengejar harta dunia seakan-akan mereka akan hidup selamanya. Mereka berusaha mempertahankan apa yang telah mereka miliki dan terus berusaha mendapatkan lebih banyak lagi. Namun bagi Baginda Nabi ﷺ kita, seluruh dunia dan segala isinya berada di bawah perintah beliau ﷺ. Bahkan setelah beliau ﷺ mengalami berbagai kesulitan yang begitu berat di Makkah, kemudian berhijrah dan sampai di Madinah, Allah Ta'ala memberikan kepada beliau ﷺ harta rampasan perang yang sangat banyak melalui berbagai peperangan dan ekspedisi. Namun beliau ﷺ justru membagikannya kepada orang-orang secara luas.

Tentu saja, para wanita itu lebih cenderung menuruti ego (hawa nafsu) mereka karena rasa cemburu. Mereka melihat istri-istri para sahabat yang telah menerima harta rampasan perang. Berdandan dan mengenakan pakaian-pakaian yang bagus serta makan dan minum. Hal itu bisa dikatakan sebagai bentuk keluhan kepada Baginda Nabi ﷺ kita, karena mereka berkeinginan untuk bisa seperti istri-istri para sahabat tersebut.

Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak seperti kita dalam bersikap dan berperilaku. Beliau ﷺ tidak berteriak ataupun membentak. Apabila beliau ﷺ menghadapi sesuatu yang membuatnya tidak berkenan, beliau ﷺ menjadi sedih dan memilih diam, lalu mengasingkan diri. 

Ketika mendengar hal tersebut, Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sangat sedih. Beliau ﷺ lalu menyendiri. Beliau ﷺ memiliki tempat tersendiri, sebuah tempat yang lebih tinggi, tempat beliau ﷺ melakukan khalwat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak berbicara dengan mereka, para istri beliau ﷺ, maupun dengan orang lain.

Kemudian turunlah sebuah ayat. Pada ayat tersebut dikatakan, "Wahai para istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, jika kalian menginginkan kesenangan dunia, Aku akan memberikannya kepada kalian sebanyak yang kalian kehendaki. Kalian menempuh jalan kalian, dan Kami menempuh jalan Kami. Kalian bebas pergi ke mana pun yang kalian inginkan."

"Namun jika kalian menghendaki untuk bersama Allah 'Azza wa Jalla dan bersama Rasul-Nya yang paling mulia, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Sultan dunia dan seluruh makhluk, maka kalian akan tetap bersama beliau ﷺ. Ada dua pilihan untuk kalian. Pilihlah mana yang kalian kehendaki. Jika kalian menginginkan dunia, Aku akan memberikan kepada kalian segala kenikmatan dunia yang kalian inginkan. Namun kalian tidak dapat memiliki keduanya sekaligus."

Baginda Nabi ﷺ kita bersabda, "Kalian hanya dapat memilih satu pilihan." 

Tentu saja hal ini ditujukan secara khusus kepada para istri beliau ﷺ. Mereka pun kemudian menyesalinya. Mereka menyadari bahwa harta dan kenikmatan duniawi tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Mereka segera bertobat. Semuanya berkata, "Kami ingin tetap bersamamu dan bersama Allah 'Azza wa Jalla, berada di sisimu. Kami tidak menginginkan dunia." Selesai. Inilah pelajaran bagi manusia.

Tentu saja seseorang boleh memiliki harta dunia. Akan tetapi ia tidak boleh melupakan kehidupan akhirat. Karena akhiratlah yang benar-benar penting. Di dunia ini, seseorang boleh melakukan dan menikmati sebanyak yang ia kehendaki selama itu halal. Namun ia tetap harus memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya.

Cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla dan kepada Baginda Nabi ﷺ hendaknya ada di dalam hatimu, melebihi kecintaan kepada segala sesuatu yang lain. Cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla dan kepada Baginda Nabi ﷺ harus benar-benar tertanam di dalam hatimu, sehingga tidak ada cinta kepada selain keduanya yang mengalahkannya.

Tidak menjadi persoalan apabila engkau memiliki seluruh isi dunia. Semua itu tidak akan berarti apa-apa bagimu ketika kecintaan kepada Allah 'Azza wa Jalla dan Baginda Nabi ﷺ telah memenuhi hatimu. Sebaliknya, apabila engkau tidak memiliki apa-apa, namun hatimu dipenuhi kecintaan kepada dunia dan segala isinya, maka ucapanmu saat mengatakan, "Aku mencintai Allah 'Azza wa Jalla dan Rasul-Nya," tidak memiliki makna yang berarti.

Sebagaimana telah kami katakan, hal yang terpenting adalah tidak melupakan kehidupan akhirat dan tidak memandang segala harta duniawi yang kita miliki semata-mata sebagai hasil usaha kita sendiri, melainkan menyadarinya sebagai karunia dari Allah ﷻ. Baginda Nabi ﷺ kita adalah teladan terbesar bagi kita. Orang-orang yang mengikuti jalannya akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Mereka akan merasa cukup, puas, tenang, serta senantiasa bersyukur kepada Allah ﷻ.

Semoga Allah 'Azza wa Jalla tidak menghalangi kita dari berbagai nikmat tersebut. Semoga Dia ﷻ menjadikan kita semua sebagai tangan yang memberi, bukan tangan yang menerima, insya Allah. Semoga Allah 'Azza wa Jalla memberikan kepada orang-orang yang memohon kepada-Nya. Perbendaharaan Allah ﷻ tidak pernah berkurang dan tidak akan pernah habis. Segala puji dan syukur hanya milik Allah ﷻ.

Wa min Allah at-Taufiq. Al-Fatihah.

Komentar